Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Pemkab Kutai Timur menargetkan perluasan lahan sawah hingga 20.000 hektare dalam lima tahun untuk mendukung swasembada beras, (28/8/2026).
Target ambisius ini diumumkan sebagai upaya konkret mendukung kemandirian pangan di Kalimantan Timur. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemkab Kutim.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan target tersebut saat bertemu Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di Harum Resort Balikpapan pada Senin, 24 Agustus 2026. Pertemuan ini membahas rencana strategis pengembangan sektor pertanian di Kutai Timur.
Program ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan tidur atau lahan yang belum tergarap optimal. Pemanfaatan ini diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian sekaligus kesejahteraan petani lokal.
Saat ini, luas kawasan sawah aktif di Kutai Timur hanya sekitar 2.600 hektare. Pemkab Kutim memiliki target awal untuk mencapai 10.000 hektare guna menjadi lumbung pangan daerah.
Upaya perluasan lahan telah menunjukkan hasil awal, dengan pencetakan sekitar 553 hingga 600 hektare sawah baru. Sawah-sawah baru ini tersebar di Kecamatan Long Mesangat dan Bengalon.
“Target 20 ribu, Pak Gubernur,” Ujar Ardiansyah Sulaieman.
Gubernur Rudy Mas’ud mengapresiasi target tersebut dan meyakini bahwa dengan kontribusi kabupaten lain, Kaltim dapat mencapai swasembada beras. Wilayah produktif saat ini mencakup Kecamatan Kaliorang, Bengalon, Kaubun, dan Long Mesangat.
“Kalau ini terwujud, ditambah kabupaten lain, saya yakin kita benar-benar swasembada beras,” Kata Rudy Mas’ud.
Gubernur Rudy Mas’ud juga meminta Pemkab Kutim untuk memperkuat kolaborasi dengan kelompok tani, TNI-Polri, serta sektor swasta. Tujuannya adalah mempercepat pembukaan dan pengembangan sawah baru di daerah tersebut.
“Pertanian ini masa depan kita, Pak Bupati. Saya tidak terlalu yakin dengan sumber daya alam, seperti batu bara dan migas, yang dikelola selama ini. Dampaknya juga tidak signifikan bagi masyarakat,” Tegas Rudy Mas’ud.
Menurut Rudy Mas’ud, sektor pertanian harus menjadi fondasi ekonomi Kaltim di masa depan, menggantikan ketergantungan pada batu bara serta minyak dan gas bumi. Selain itu, kawasan persawahan juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam.
“Sawah ini wisata mewah, Pak Bupati. Wisata mepet sawah,” Kelakar Rudy Mas’ud.
Melalui program cetak sawah yang melibatkan berbagai pihak, Kutai Timur diharapkan mampu menjadi pilar ketahanan pangan Kaltim. Ini juga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.


