Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – BPBD Kaltim mencatat 1.300 hotspot karhutla sepanjang 1-27 Agustus 2026. Pemadaman terkendala keterbatasan sumber air, Jum’at (28/8/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa ketersediaan sumber air menjadi salah satu kendala utama yang dirasakan petugas di lapangan. Area seperti Pendingin, yang biasanya berupa rawa dengan genangan air tinggi, kini telah mengering.
Kondisi lahan yang sangat kering membuat proses pemadaman api menjadi semakin sulit. Material sisa kebakaran juga berpotensi memicu api kembali menyala di lokasi yang berbeda.
Buyung menjelaskan bahwa 1.300 hotspot yang terdeteksi merupakan anomali suhu dari satelit, bukan berarti jumlah pasti kejadian karhutla. Setiap titik panas masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Proses verifikasi ini melibatkan jajaran kepolisian, dengan informasi titik panas diteruskan kepada Bhabinkamtibmas di wilayah masing-masing. Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas cukup tinggi.
BPBD Kaltim mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya mengatasi kekeringan, namun pelaksanaannya sangat bergantung pada ketersediaan awan. Keputusan akhir mengenai OMC juga berada di tangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kalau sekarang kondisinya lagi kering, enggak ada awan, ya kalau nanti taruh garam jadi hujan garam saja,” Ujar Buyung Dodi Gunawan.
Selain OMC, BPBD Kaltim juga mempertimbangkan solusi jangka panjang seperti pembuatan sumur dalam atau deep well untuk mengantisipasi krisis air saat kemarau panjang. Kebutuhan tangki air juga dianggap penting untuk mendukung pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau.
Terkait anggaran, Buyung memastikan bahwa dana operasional untuk penanganan karhutla sejauh ini masih mencukupi. BPBD Kaltim mempertimbangkan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) jika terjadi peningkatan kebutuhan.


