Kamis, 27 Agustus 2026
Hot

Antisipasi El Nino 2026, Polda Kaltim Siapkan 1.619 Personel

Dengan 974 titik hotspot di semester I 2026, Kaltim tingkatkan kesiapsiagaan hadapi musim kemarau ekstrem dan potensi bencana multisektoral.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Kepolisian Daerah Kalimantan Timur menyiagakan 1.619 personel untuk mengantisipasi Karhutla dan dampak El Nino, Selasa (4/8/2026).

Polda Kalimantan Timur memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat fenomena El Nino melalui rapat koordinasi bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Kasdam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan, dan Forkopimda.

Sebanyak 974 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kalimantan Timur sepanjang semester I 2026. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Polda Kaltim menggelar Operasi Amanusa II-2026 dengan mengerahkan 1.619 personel serta didukung sarana pencegahan di wilayah rawan.

Article ad in the middle of article

“Jangan menunggu api membesar. Pencegahan harus dilakukan sejak dini agar Karhutla tidak meluas,” Tegas Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro.

Langkah ini diharapkan mampu menekan risiko Karhutla sekaligus meminimalkan dampak El Nino terhadap lingkungan dan masyarakat di Kalimantan Timur.

Irjen Pol Endar Priantoro juga menegaskan penegakan hukum akan dilakukan secara tegas terhadap pihak yang terbukti sengaja maupun lalai menyebabkan kebakaran. Ia mendorong penerapan kebijakan tanpa bakar atau zero burning policy berbasis komunitas. Brigjen TNI Andy Setyawan (Kasdam VI/Mulawarman) menambahkan, Karhutla merupakan ancaman rutin yang harus diantisipasi setiap memasuki musim kemarau.

“Sebagai bagian dari komponen utama pertahanan negara, Kodam VI/Mulawarman siap mendukung penuh upaya pemerintah dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran hutan dan lahan,” Ucap Andy Setyawan.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengingatkan bahwa dampak El Nino bersifat multisektoral. Ia meminta seluruh instansi untuk menanggalkan ego sektoral dalam penanganan bencana ini. Penurunan curah hujan juga berpotensi mengganggu sektor pertanian dan perkebunan yang berujung pada risiko gagal panen.

“Kita harus bergerak menjadi satu tim, satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Penanganan Karhutla tidak mungkin dibebankan hanya kepada satu instansi saja,” Tegas Rudy Mas’ud.

Gubernur Rudy menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan pelayanan masyarakat dalam menghadapi suhu ekstrem dan potensi kabut asap. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar mekanisme koordinasi di lapangan berjalan efektif, terutama dalam melakukan mitigasi sejak dini sebelum api meluas.

Article ad after last paragraph