Jumat, 28 Agustus 2026
Hot

Menyusuri Belantara Sebangau, Jantung Hutan Kalimantan

Harian Express Kalimantan menelusuri Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Mengungkap keunikan ekosistem blackwater dan sejarah kerusakan hutan gambut yang menjadi paru-paru dunia.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Ekspedisi menyusuri Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah menghadirkan pengalaman mendalam tentang kekayaan alam dan sejarah lingkungan, Minggu (2/8/2026).

Perjalanan ini menyuguhkan kenangan yang bukan sekadar indah dipandang mata. Ini mengubah cara penulis memaknai alam, mempertemukan dengan sejarah panjang kerusakan lingkungan, dan menumbuhkan harapan pemulihan.

Petualangan dimulai pagi hari dari Dermaga Kereng Bangkirai di Kota Palangka Raya. Sebuah perahu klotok perlahan meninggalkan dermaga, membelah sungai yang tenang.

Article ad in the middle of article

“Perjalanan menuju pedalaman Taman Nasional Sebangau berlangsung seharian penuh. Pada malam hari, rombongan akhirnya tiba di Desa Mendawai, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, setelah menyusuri kawasan yang menyimpan kekayaan alam dan sejarah lingkungan yang luar biasa,” Ujarnya

Semakin jauh memasuki kawasan taman nasional, perbedaannya terasa dari hutan-hutan lain di Indonesia. Air sungainya berwarna hitam pekat, menyerupai teh kental.

Sekilas air tersebut mungkin terlihat keruh, padahal berasal dari rawa gambut purba yang kaya zat tanin. Ini adalah hasil pelapukan alami dedaunan selama ribuan tahun.

Fenomena unik ini dikenal sebagai blackwater ecosystem. Karakteristik ini hanya dimiliki oleh sedikit kawasan rawa gambut tropis di dunia.

Di balik warna hitam tersebut, tersimpan ekosistem kubah gambut (peat dome) yang luar biasa. Lapisan gambutnya bahkan mencapai belasan meter.

Ekosistem ini menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar. Tidak berlebihan jika kawasan ini disebut sebagai salah satu paru-paru dunia.

Kemampuannya menyerap emisi karbon jauh lebih besar dibandingkan banyak ekosistem lainnya. Namun, lanskap hijau yang dinikmati hari itu pernah berada di ambang kehancuran.

Pada dekade 1970-an, kawasan Sebangau mulai dibuka melalui berbagai izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Aktivitas penebangan hutan terus meningkat signifikan.

Titik terburuk terjadi pada awal Reformasi tahun 1998, ketika pembalakan liar berlangsung secara masif.

Pengalaman ini mengajarkan pentingnya menjaga warisan alam. Pemulihan lingkungan selalu mungkin dilakukan, meskipun menghadapi tantangan besar.

Article ad after last paragraph