Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALIMANTAN — Tiga cerita rakyat Kalimantan mengisahkan anak durhaka yang dikutuk menjadi burung dan batu sebagai pengingat pentingnya berbakti kepada orang tua, Minggu (2/8/2026).
Legenda pertama berasal dari Kalimantan Timur, yakni kisah Burung Yoog Uung yang hidup di tengah masyarakat suku Bahau.
Cerita ini mengisahkan Tingang, seorang pemuda yang durhaka kepada kedua orang tuanya hingga akhirnya dikutuk menjadi burung yang terus meratapi perbuatannya.
Dari Kalimantan Selatan, masyarakat mengenal legenda Gua Batu Hapu yang menceritakan Angui, anak yang mengusir ibu kandungnya setelah menjadi saudagar kaya.
Akibat kedurhakaannya, kapal beserta seluruh harta Angui dikisahkan berubah menjadi gunung batu yang kini dikenal sebagai Gua Batu Hapu.
Sementara itu, Kalimantan Barat memiliki legenda Batu Menangis, kisah Darmi yang malu mengakui ibunya dan memperlakukannya dengan buruk.
Doa sang ibu membuat Darmi perlahan berubah menjadi batu, sementara air matanya terus mengalir sebagai lambang penyesalan yang tak berujung.
“Ketiga legenda ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun keberhasilan seseorang, berbakti kepada orang tua tetap menjadi nilai yang tidak boleh diabaikan.”
Hingga kini, ketiga cerita tersebut masih diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat Kalimantan.
Selain menjadi warisan budaya, legenda-legenda tersebut juga menjadi media pendidikan karakter yang mengajarkan rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab kepada orang tua sejak usia dini.


