Senin, 31 Agustus 2026
Hot

BPBD Kaltim Jelaskan Kendala Operasi Modifikasi Cuaca Akibat Awan Tipis

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi, menjelaskan OMC di Kaltim harus menunggu potensi bibit awan yang cukup sebelum dilakukan. Ribuan hotspot terdeteksi di provinsi.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Timur tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan dan sangat bergantung pada potensi awan yang tersedia. Minggu (29/8/2026).

Kondisi kering serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sedang melanda wilayah Kalimantan Timur. Data BPBD Kaltim mencatat total 14.795 titik panas terdeteksi antara 1 hingga 26 Agustus 2026.

Angka tersebut merupakan hasil pembacaan satelit dengan tingkat kepercayaan bervariasi dan tidak seluruhnya secara langsung mengindikasikan kejadian kebakaran sungguhan.

Article ad in the middle of article

Distribusi titik panas menunjukkan Berau menjadi wilayah terbanyak dengan 6.004 titik. Sementara itu, Kutai Timur tercatat memiliki 3.003 titik dan Kutai Kartanegara 2.426 titik.

Wilayah lain yang juga terpantau memiliki banyak titik panas adalah Paser dengan 1.934 titik, serta Kutai Barat 853 titik. Di Kota Samarinda sendiri, tercatat ada 52 titik panas selama periode tersebut.

Merespons kondisi kekeringan dan banyaknya titik panas, BPBD Kaltim berupaya mengimplementasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi potensi awan yang tersedia di udara.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi, menjelaskan bahwa penentuan lokasi OMC tidak dapat dilakukan sembarangan. Proses ini mensyaratkan adanya analisis potensi bibit awan terlebih dahulu oleh BNPB.

“Pelaksanaannya itu tergantung dari BNPB dan potensi bibit awan yang ada,” Ujar Buyung Dodi.

Menurut Buyung, keberadaan awan saja belum menjadi jaminan kesuksesan OMC. Awan harus memiliki ketebalan dan luasan tertentu agar bahan semai dapat bekerja secara efektif.

“Jadi memang ada hitungannya dari teman-teman. Kalau misalkan ketebalannya sekian kilometer, bukan hanya awan yang kecil. Harus cukup lebar,” Jelas Buyung Dodi.

Dengan demikian, penebaran garam sebagai bagian dari proses modifikasi cuaca tidak bisa dipaksakan pada kondisi awan yang terlalu tipis. Hal ini untuk memastikan efektivitas operasi.

Article ad after last paragraph