Rabu, 04 November 2026
Hot

Mahakam Ulu Petakan Potensi Hilirisasi Komoditas

Pemkab Mahulu menyiapkan langkah hilirisasi komoditas unggulan dan hasil hutan bukan kayu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) memetakan potensi komoditas lokal untuk program hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah produk dan membuka lapangan kerja baru, Selasa (3/11/2026).

Pemetaan tersebut diperkuat melalui pemaparan laporan akhir kajian hilirisasi oleh tim Universitas Mulawarman.

Bupati Mahulu Angela Idang Belawan mengatakan, pengembangan potensi daerah membutuhkan strategi yang tepat agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Article ad in the middle of article

“Pembangunan ekonomi daerah membutuhkan strategi tepat agar potensi yang dimiliki dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” Ujar Angela.

Salah satu komoditas yang menjadi fokus adalah kelapa sawit. Saat ini, terdapat 10 perusahaan pemegang izin usaha dengan luas areal 106.153 hektare, selain perkebunan rakyat.

Melalui hilirisasi, kelapa sawit dapat diolah menjadi minyak mentah, minyak goreng, biodiesel, hingga pupuk organik berbasis biomassa.

Selain sawit, kakao juga menjadi komoditas unggulan yang dikembangkan menjadi produk turunan seperti cokelat batangan dan bahan kecantikan.

Pada 2025, perkebunan kakao rakyat di Mahulu mencapai 2.356 hektare yang dikelola 806 rumah tangga petani. Pemkab Mahulu juga menjalin kemitraan teknologi pengolahan biji kakao sejak Agustus 2026.

Pengembangan hilirisasi turut mencakup hasil hutan bukan kayu, seperti madu, rotan, damar, gaharu, tanaman obat, dan bambu. Sektor ini diharapkan memperkuat ekonomi masyarakat adat tanpa merusak kelestarian hutan.

Potensi pariwisata dan budaya juga dikembangkan melalui paket wisata Hudoq Pekayang, susur Sungai Mahakam, serta kerajinan kain khas Dayak dan manik-manik.

Angela mengatakan, pengembangan seluruh potensi tersebut akan disusun dalam peta jalan hilirisasi 2026–2030 dengan mempertimbangkan kesiapan, peluang pasar, dan kemampuan daerah.

“Hilirisasi ini akan disusun dalam peta jalan 2026–2030 agar lebih terarah. Tidak semua potensi harus dikembangkan bersamaan, melainkan dipilih secara cermat berdasarkan kesiapan, peluang pasar, dan kemampuan daerah,” Katanya.

Pemerintah daerah berharap peta jalan tersebut menjadi pedoman pelaksanaan program hilirisasi secara terukur untuk mendorong kemandirian ekonomi Mahulu.

Article ad after last paragraph