Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 61 titik panas di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kalimantan Timur, mengakibatkan 400 hektare lahan terbakar, Kamis (3/9/2026).
Laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan adanya 61 titik panas yang terdeteksi di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kalimantan Timur. Kondisi ini menjadi perhatian serius setelah menyebabkan lahan seluas 400 hektare hangus terbakar.
Data tersebut merupakan hasil pendataan BNPB yang dilakukan pada Kamis, 3 September 2026. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi temuan ini kepada publik.
“Titik api (hotspots) 61 titik. Luas lahan terbakar 400 hektare,” Ujar Berton SP Panjaitan.
Karhutla paling parah melanda dua wilayah penting, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Kedua daerah ini ditetapkan sebagai fokus utama upaya penanggulangan bencana yang sedang berlangsung secara intensif.
Dalam upaya mengatasi meluasnya kebakaran, sejumlah tim gabungan telah dikerahkan ke lokasi terdampak. Tim tersebut melibatkan Otorita IKN, BPBD Penajam Paser Utara, TNI, Polres Kota Nusantara, Polsek Sepaku, serta Manggala Agni.
Meskipun demikian, tim di lapangan menghadapi berbagai kendala yang menghambat proses pemadaman secara signifikan.
“Kendala, pasokan air di lokasi kebakaran relatif sulit diperoleh, serta akses jalan darat untuk menjangkau titik api sangat terbatas,” Jelas Berton SP Panjaitan.
Kondisi ini mempersulit akses petugas menuju titik api yang tersebar dan memperlambat upaya pemadaman yang efektif. Pasokan air yang minim juga menjadi faktor krusial yang perlu segera diatasi untuk menekan luasan area terbakar.
Selain di Kalimantan, BNPB juga melaporkan deteksi 18 titik panas di Provinsi Papua Barat. Di wilayah timur Indonesia tersebut, sekitar 223,5 hektare lahan dilaporkan telah terbakar.
Data ini menunjukkan bahwa ancaman Karhutla merupakan masalah yang meluas di berbagai daerah di Indonesia. Pihak berwenang terus berupaya memantau dan melakukan mitigasi risiko di seluruh wilayah rawan bencana ini.


