Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALIMANTAN – Musim kemarau berkepanjangan mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap aktivitas penyu yang bertelur di Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jum’at (4/9/2026)
Kondisi pasir pantai yang sangat kering akibat hampir dua bulan tanpa guyuran hujan lebat telah mempersulit penyu menggali sarang dengan baik. Akibatnya, banyak penyu dilaporkan gagal dalam upaya bertelur karena lubang yang mereka buat rentan longsor dan tidak stabil.
Arsad, Koordinator BKSDA Kaltim di Pulau Sangalaki, mengungkapkan bahwa pasir yang terlampau kering sangat mengganggu proses alami penyu. Upaya penyu untuk membuat sarang yang aman menjadi terhambat oleh kondisi lingkungan ini.
“Pasirnya sangat kering karena hampir dua bulan belum ada hujan. Itu mengganggu penyu juga kalau datang bertelur malam di sini,” Ujar Arsad.
Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur yang bertugas di Pulau Sangalaki telah meningkatkan intensitas patroli mereka setiap malam. Hasilnya, mereka seringkali hanya menemukan jejak-jejak penyu yang naik ke daratan, namun tanpa disertai sarang maupun telur yang berhasil diletakkan.
Kondisi ini, di kalangan petugas, dikenal sebagai penyu yang ‘memeti’, yakni ketika penyu datang ke pantai namun tidak mampu menyelesaikan proses bertelur. Penyu-penyu tersebut kerap terlihat berpindah-pindah lokasi di sepanjang pantai, mencari spot yang memungkinkan mereka bersarang.
“Dia datang, jejaknya terus gagal bertelur, pindah-pindah. Tiap malam kita patroli itu menemukan hanya jejak saja,” Ujarnya.
Secara umum, penyu akan menggali lubang di pasir untuk membentuk sarang yang aman sebelum mengeluarkan telurnya. Namun, di tengah cuaca kemarau ekstrem seperti saat ini, proses esensial ini kerap berujung pada kegagalan. Kondisi ini berbeda dari biasanya yang memungkinkan penyu menempatkan telur dengan aman di bawah lapisan pasir.
Dalam beberapa pengamatan, ditemukan kasus penyu yang menghamburkan telur-telurnya langsung di permukaan pasir. Arsad menduga, perilaku ini merupakan indikasi bahwa penyu sudah sangat kelelahan dan tidak lagi memiliki tenaga untuk terus menggali sarang setelah berkali-kali mengalami kegagalan.
Dampak berkepanjangan dari musim kemarau dan pasir kering ini menjadi ancaman serius bagi upaya konservasi penyu di Pulau Sangalaki. Keberhasilan reproduksi penyu, yang merupakan satwa dilindungi, sangat bergantung pada kondisi lingkungan pantai yang mendukung.


